Senin, 24 Mei 2010

Tips Mencari Calon Istri Yang Perawan




Mencari calon istri yang masih perawan itu penting (pengecualian untuk orang yang kehilangan keperawanan karena kecelakaan, karena status keperawanannya menunjukkan kepribadian dia sebenarnya. Jika si cewek sanggup menjaga keperawanan sampai menikah, berarti paling tidak dia bisa menjaga kehormatan & dirinya.

Kalau kita mendapati istri kita sudah tidak perawan lagi di malam pertama, kita pasti merasa tertipu (jika tidak tahu sebelumnya) dan akan khawatir suatu saat istri kita akan selingkuh, kita merasa dikhianati, dan merasa tidak percaya 100% kepada istri kita.

Berikut ini Tips mencari calon istri yang masih Perawan.

Tips ini Meskipun tidak menjamin 100%, tapi ada baiknya kita lebih berhati-hati dalam mencari calon pendamping hidup

1. Perhatikan tingkah lakunya, cara bicaranya, cara berpakaian, jika si cewek terkesan nakal, trus sering berpakaian terlampau seksi maka peluang perawannya semakin kecil.

2. Lihat pergaulannya, teman-temannya, dan kondisi keluarganya. Apakah dia bergaul dengan orang baik-baik atau tidak. berasal dari kaluarga baik-baik atau tidak.

3. Mencari tau masa lalunya, kita bisa tanya-tanya ke temen dekatnya atau orang2 yang sudah mengenalnya lebih lama

4. Cari cewek yang kuat agamanya. Biasanya seorang cewek yang alim bisa menjaga dirinya karena merasa diawasi Tuhan dimanapun dia berada.

5. Kalo mau lebih aman lagi, cari cewek yang belum pernah pacaran, karena seringkali keperawanan seorang cewek direnggut oleh mantan pacarnya sendiri.

Contoh ideal seorang cewek yang peluang perawannya sangat besar adalah tokoh Aisyah di film Ayat-Ayat Cinta. Aisyah tidak pernah pacaran, mengerti agama, cantik, kaya.

Biasanya orang yang baik-baik jodohnya juga baik-baik karena pergaulannya dengan orang baik-baik pula.

Minggu, 16 Mei 2010

"KOLOR IJO" HEBOHKAN MASYARAKAT BANYUMAS




BANYUMAS - Sumarni (30) dengan didampingi tetangganya mendatangi Mapolsek Patikraja, Kabupaten Banyumas. Sumarni langsung menunjukkan beberapa bekas luka memar akibat dianiaya pelaku pemerkosaan.

Paha kanan Sumarni bahkan masih terlihat bekas lukanya akibat dipukul dengan gagang golok, sementara bibir atas sumarni pecah.

Menurut Sumarni, Kamis, (24/4/2008) dirinya hendak diperkosa oleh seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Saat itu Sumarni sedang tidur bersama Vivi (8), anak bungsunya.

Seketika Sumarni melakukan perlawanan untuk menjaga kehormatannya. Namun justru pelaku menghadiahi pukulan di sekujur tubuh dan wajah Sumarni karena berontak.

"Celana dalam saya sempat dipelorotkan dua kali, karena saya melawan wajah saya dipukul pakai tangan dan gagang golok," ujar Sumarni.

Kepada polisi, warga Desa Rawa Dawa Rt 4/6 Kecamatan Kedung Ringin, Banyumas ini mengaku tidak bisa melihat korbannya karena matanya di sorot dengan lampu hand phone.

Menurut Kapolsek Patikraja, AKP Suryo, pihaknya menduga jika pelaku mengenal korbannya. Menurut laporan warga, pelaku yang di sebut-sebut warga sekitar sebagai kolor ijo ini, sudah melakukan aksinya di sekitar tempat yang sama sebanyak dua kali.

"Karena pelaku tidak mengambil barang korban, diduga pelaku hanya akan memperkosa. Dan kejadian serupa seperti ini dengan modus yang sama sudah terjadi kedua kali di wilayah tersebut. Sepertinya pelaku mempunyai penyimpangan seksual," terang AKP Suryo, Kapolsek Patikraja.

Kolor ijo tersebut juga terlihat sudah mengenal seluk beluk rumah korban. Pelaku juga diduga sudah mengetahui jika saat itu suami korban sedang berada di luar kota.

Pelaku juga melakukan aksi menggerayangi tubuh korban dan hendak memperkosanya ketika pagi hari. Serangan fajar seperti ini yang dikhawatirkan sejumlah ibu-ibu muda di Desa Rawa Dawa, Patikraja.

Kini pihak aparat Mapolsek Patikraja terus memburu kolor ijo tersebut. Polisi juga sudah berhasil mengidentifikasikan ciri-ciri pelaku kolor ijo tersebut. Polisi meminta kepada warga agar segera melapor jika melihat kolor ijo masih terus mencari mangsa ibu-ibu muda di desanya.(BI-2010)

Minggu, 09 Mei 2010

MENGENAL ISTILAH “NAMONG’ DALAM MASYARAKAT ADAT WAY LIMA




“Namong” berasal dari kata dasar “Tamong”, yang artinya orang yang dituakan, dihormati dan diagungkan (seperti kakek, nenek atau buyut). Mungkin pada jaman dulu Tamong dalam bahasa lampung kuno disebut dengan “Phu-Yang” (orang yang dituakan dan dihormati) atau “Umpu” (anak cucu yang masih hubungan darah atau keturunan).

Sedangkan arti dari kata “Namong” menurut bahasa berarti mempunyai Tamong atau ber-Tamong. Tapi menurut makna, “Namong” adalah seorang anak ber-Tamong kepada seseorang (masih hubungan darah) yang diharapkan menjadi penerus sifat kebaikannya (kearifan, kedermawanan dan kebijaksanannya). Budaya “Namong” ini hanya ditemukan dalam masyarakat Adat Lampung Pesisir Pemanggilan Marga Way Lima yang tersebar di 4 kecamatan yaitu Pardasuka, Kedondong, Way Lima dan sebagian Gedong Tataan.

Anak yang telah diberi nama dalam syukuran, biasanya langsung juga diberi Namong-nya. Adapun ketentuan Namong-an adalah sebagai berikut :

1. Harus ada hubungan darah (keturunan) baik dari pihak bapak atau ibu si anak. (contohnya : Kakek dan Nenek dari pihak ibu atau bapak, atau Kakek dan Nenek dari pihak paman /sepupu ibu atau bapak).

2. Anak yang ber-Tamong kepada seseorang, syaratnya harus beda 2 generasi. ( contohnya : Cucu dengan Kakek atau Nenek).

3. Anak laki-laki dengan kakek, sedangkan anak perempuan dengan nenek.

4. Anak laki-laki Namong kepada seorang kakek, maka kakeknya memanggil anak tersebut dengan sebutan “Sabai Kuya”, dan neneknya memanggil kepada anak tersebut dengan sebutan “Enggom”. Sebaliknya begitu juga pada anak perempuan yang Namong kepada seorang nenek, neneknya memanggil “Sabai” dan kakek memanggil ”Enggom”.

5. Begitu juga anak tersebut dipanggil oleh anak dari kakek atau nenek yang di-Namong-kan. Jika anak itu laki-laki, maka anak dari kakek atau nenek memanggilnya “bapak” dengan maksud menuakan dan menyayangi. Dan juga jika anak itu perempuan, mereka akan memanggil “Induk”. Tapi orang tuanya (bapak ibu) tetap memanggil dengan sebuatan biasa kepada anak tersebut, walaupun anak tersebut namong kepada kakek atau neneknya sendiri, tapi panggilan itu hanya dari paman dan bibinya saja.

6. Kepercayaan dulu, jika Anak (bayi) tersebut setelah diberi nama dan Namong, biasanya sering sakit-sakitan. Maka biasanya di-isyaratkan bahwa anak itu tidak menerima ke-Namong-annya. Lalu Namong-annya diganti dengan yang lain, dan baru anak tersebut tidak sakit-sakitan lagi.

Kesimpulan:

Kesimpulan yang dapat diambil dari artikel budaya ini adalah sebagai berikut:

1. Mungkin secara filosofi, tujuan adanya budaya “Namong” ini adalah pewarisan sifat kebaikan yang dimiliki kaum tetua kepada kaum generasi muda, agar generasi muda menjadi lebih baik dalam membangun masyarakatnya.

2. Budaya “Namong” juga menunjukan kepada kita bahwa adanya rasa kasih sayang yang luhur dari pihak tetua kepada kaum muda sebagai generasi penerus, sehingga anak tersebut tidak kehilangan rasa kasih sayang dari kecil sampai dewasa, walaupun ibu bapaknya telah tiada.

3. Kita perlu menjaga dan melestarikan budaya “Kearifan Lokal”, yang masih terikat kuat pada kehidupan masyarakat Indonesia. Karena dengan menjaga kearifan lokal tersebut, akan berguna sebagai filter bagi masuknya budaya asing yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa dan sejalan dengan Agama Islam. (BI-2010)

Kamis, 06 Mei 2010

"Lamban Sabukh" Rumah Berusia Ratusan Tahun




LIWA - Sebanyak 14 rumah sabukh (Rumah Atap sabut) yang berada di Pekon (Desa) Hujung, Kecamatan Belalau Lampung Barat, telah berumur ratusan tahun.

Salah satu pemilik rumah sabukh, di Desa Hujung, Kecamatan Belalau, Lampung Barat, Bustoni (60) di Hujung, Jumat, menguraikan, rumah sabukh yang ditempati sudah empat generasi. "Rumah ini sudah ada sejak nenek moyang kami, membuka hutan dan mendirikan rumah sabukh sekitar tahun 1867, dan sudah dihuni empat generasi, rumah yang didiami tergolong kuat, karena berasal dari kayu dan bambu mempunyai kualitas baik, selain itu kayu yang dipilih yakni jenis kayu klutum dan kayu medang dengan kondisi masih glondongan," kata dia.

Kemudian lanjut dia, ciri khas dalam rumah peninggalan lama, yakni atap rumah yang di buat dari ijuk, atau sabut aren. "Saat ini sudah jarang rumah masyarakat lampung yang atapnya terbuat dari ijuk aren, selain karena ijuk aren tidak ada yang menjual, kemudian dinding rumah terbuat dari bambu yang memiliki kualitas baik," kata dia.

Menurut dia, walaupun terkesan kumuh dan kuno, tetapi rumah ini mahal. "Rumah yang kami miliki memang terkesan kumuh, akan tetapi rumah tersebut mempunyai nilai seni yang tinggi. Ditunjang dengan nilai histori membuat rumah ini tidak ternilai harganya," kata dia lagi.

Dikatakannya, rumah sabukh tidak akan dijual pada orang lain. "Saya tidak akan menghilangkan sejarah nenek moyang dalam keluarga saya, tetapi bila pihak lain seperti Pemkab menjadikan rumah ini sebagai cagar budaya, setidaknya kami ingin ada perhatian khusus sehingga rumah Sabukh akan awet sehingga dapat dilihat pada generasi berikutnya," kata Bustoni.

Lambar mempunyai potensi besar bidang pariwisata dan budaya, adat istiadat yang unik membuat kabupaten ini dijuluki kabupaten cagar budaya, karena Lampung Barat sendiri mempunyai sebuah kerajaan, yang dijuluki kerajaan Skala Brak, yang mana awal cikal bakal lahirnya dari suku Lampung.

Adanya peninggalan rumah tua yang telah berumur ratusan tahun menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang teguh amanat nenek moyang, warisan tersebut menggambarkan kehidupan masa lalu suku Lampung pedalaman.

Rumah suku Lampung yang mayoritas panggung, bertujuan untuk menghindari serangan binatang buas.Sehingga rumah tersebut dibuat setinggi mungkin agar terhindar dari ancaman binatang tersebut.

Terhitung di Pekon (Desa) Hujung, Kecamatan Belalau, Lampung Barat, terdapat 14 rumah Sabukh (Rumah Sabut), bila upaya penyelamatan cagar budaya ini terlalu lama, maka peninggalan sejarah kehidupan suku Lampung jaman dulu akan terancam punah.

Mayoritas rumah Sabukh yang terbuat dari dinding bambu yang di sebut masyarakat sekitar dengan Khesi, tidak hanya dinding, lantai rumah mereka juga terbuat dari bambu juga. Luas bangunan rumah tua tersebut mencapai 5,5 x 10 meter yang terdapat dua sampai tiga kamar tidur, sedangkan luas ruangan sisa di pakai sebagai tempat pertemuan dan dapur, sedangkan kamar mandi dan MCK, masyarkat mengandalkan sungai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Diera serba canggih yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang serba canggih pula, masih ada segelintir masyarkat memegang teguh adat istiadat leluhur, walaupun terkesan kumuh dan tidak modern, tetapi mereka mempunyai rasa kepekaan terhadap akar sejarah sebagai masyarakat adat lampung. Bila Pemkab serius menangani aset budaya yang di miliki, maka optimis objek langka ini, akan menjadi daya tarik sendiri bagi pariwisata Lambar. (BI-2010). Sumber : http://lampungbarat.go.id/

Rabu, 05 Mei 2010

KUBAH LUMPUR MUNCUL DI ACEH




BANDA ACEH - Fenomena aneh terjadi di bawah permukaan laut Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, pascagempa berkekuatan 7,2 Skala Richter pada Maret lalu. Sejumlah kubah-kubah lumpur bercampur batu kekuningan muncul di sana.

Kemunculan itu sempat membuat panik sejumlah warga di Pulau Banyak. Namun, tim ahli geologi dari Pemerintah Aceh dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang telah menelitinya menyimpulkan, fenomena alam ini tak membahayakan warga.

“Sebaiknya masyarakat tidak perlu melakukan penyelamatan di sekitar lokasi,” kata Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dalam laporan tertulis dikirim ke wartawan di Banda Aceh, Selasa (4/5/2010).

Irwandi menjelaskan, hasil observasi tim ahli kumpulan kubah lumpur terletak di dasar laut di perairan Taelana Haloban, Kecamatan Pulau Banyak, tepatnya berada di koordinat 02o17,1 Lintang Utara dan 097013'08,9 Bujur Timur.

Tim ahli terdiri dari pakar di Dinas Pertambangan dan Energi Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Unsyiah Banda Aceh, Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi. “Tim ini melakukan observasi pada 21 April 2010,” katanya.

Dari sekian banyak kubah lumpur, tim mencatat yang terbesar berdiameter 30 meter, tinggi 8 meter, dan puncaknya berjarak 5 meter di bawah permukaan laut.

Kemunculan kubah lumpur itu sebelumnya sempat merubah warna air laut. Perubahan warna itu disebabkan oleh semburan lumpur.

Tim ahli menyimpulkan bahwa hingga kini tak terdapat lagi titik semburan lumpur baru di sekitar kubah yang ada. Hanya saja, gelembung-gelembung gas (udara) dalam jumlah kecil masih ada.

Berdasarkan laporan tim ahli, Irwandi menjelaskan bahwa suhu air laut di sekitar semburan normal.

Soal batu kekuningan yang muncul bersama kubah lumpur, tim meneliti beberapa sampel.

Hasilnya disimpulkan, batu-batu itu diantaranya berjenis batu bara yang terdapat di mud-vulcano, batu pasir berwarna abu-abu hingga kuning yang bersifat plastis dan batu lempung. Juga ditemukan batu berwarna keemasan, mengandung mineral pirit atau senyawa besi belerang.

Sebelumnya, warga banyak memungut batu-batu itu dan mengira mengandung emas.

Menurut tim ahli fenomena itu terjadi karena gempa bumi 7,2 SR yang terjadi di sana pada 7 April 2010. Gempa itu menyebabkan rekahan pada bebatuan di dasar laut sehingga menyemburkan lumpur.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengimbau warga tak panik dengan fenomena itu, karena dinilai tak berbahaya. “Namun tetap waspada,” ujarnya.

Sebelumnya, warga di Kepulauan Banyak sempat menggelar doa bersama menanggapi fenomena itu. Kala itu ditengah warga sempat berkembang isu beragam. Sebagian warga mengira akan muncul pulau baru dan akan menenggelamkan Pulau yang ada.(BI-2010)

Senin, 03 Mei 2010

SEJARAH SUKU LAMPUNG




Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata “anjak lambung” yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.

Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung. Prof Hilman Hadikusuma didalam bukunya (Adat Istiadat Lampung:1983) menyatakan bahwa generasi awal Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat.

Penduduknya dihuni oleh Buay Tumi yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekerummong. Negeri ini menganut kepercayaan dinamisme, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa. Buay Tumi kemudian kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam yang berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Bejalan diWay, Umpu Nyerupa, Umpu Pernong dan Umpu Belunguh. Keempat Umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak Sekala Brak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama puyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Prof Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan Ulun Lampung sebagai berikut: * Inder Gajah Gelar: Umpu Lapah di Way Kedudukan: Puncak Dalom, Balik Bukit Keturunan: Orang Abung

Pak Lang Gelar: Umpu Pernong Kedudukan: Hanibung, Batu Brak Keturunan: Orang Pubian

Sikin Gelar: Umpu Nyerupa Kedudukan: Tampak Siring, Sukau Keturunan: Jelma Daya

Belunguh Gelar: Umpu Belunguh Kedudukan: Kenali, Belalau Keturunan: Peminggir

Indarwati Gelar: Puteri Bulan

Kedudukan: Cenggiring, Batu Brak

Keturunan: Tulang Bawang Adat-istiadat Pada dasarnya jurai Ulun Lampung adalah berasal dari Sekala Brak, namun dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat adat Pepadun yang baru berkembang belakangan kemudian setelah seba yang dilakukan oleh orang abung ke banten lebih berkembang dengan nilai nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai nilai Aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin.

Masyarakat adat Lampung Saibatin Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat:Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:

Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)

Keratuan Melinting (Lampung Timur)

Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)

Keratuan Semaka (Tanggamus) * Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)

Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten) [sunting] Masyarakat adat Lampung Pepadun Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:

Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.

Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.

Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung. * Sungkay Bunga Mayang, mendiami wilayah adat: Ketapang, Sungkay, Negara Ratu, Bunga Mayang, Sungkay Jaya.

Way Kanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat WayKanan mendiami wilayah adat: Negeri Besar, Pakuan Ratu, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui. [sunting] Falsafah Hidup Ulun Lampung Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:

Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)

Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)

Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)

Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)

Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya) Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung. Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun): Tandani Ulun Lampung, wat Piil-Pusanggiri Mulia heno sehitung, wat liom khega dikhi Juluk-Adok kham pegung, Nemui-Nyimah muakhi Nengah-Nyampur mak ngungkung, Sakai-Sambaian gawi.

Bahasa Lampung Artikel Lengkap di Bahasa Lampung Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Propinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten. Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya. Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek.

Pertama, dialek A (api) yang dipakai oleh ulun Sekala Brak, Melinting Maringgai, Darah Putih Rajabasa, Balau Telukbetung, Semaka Kota Agung, Pesisir Krui, Ranau, Komering dan Daya (yang beradat Lampung Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek O (nyo) yang dipakai oleh ulun Abung dan Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun). Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow. [sunting] Aksara Lampung Artikel Lengkap di Aksara Lampung Aksara lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri. Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah. Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut. [sunting] Marga di Lampung Artikel Lengkap di Marga di Lampung [sunting] Sastra Artikel Lengkap di Sastra Lampung.

Falsafah dan Pedoman Hidup Masyarakat Lampung

Tandani Ulun Lampung Wat Piil-Pusanggiri Mulia Hina Sehitung Wat Liom Khega Diri Juluq-Adoq Kham Pegung, Nemui-Nyimah Muari Nengah-Nyampokh Mak Ngungkung, Sakai-Sambayan Gawi.
Falsafah Hidup Ulun Lampung tersebut diilustrasikan dengan lima bunga penghias Sigokh pada lambang Propinsi Lampung. Menurut kitab Kuntara Khaja Niti, Ulun Lampung haruslah memiliki Lima Falsafah Hidup:

1. Piil-Pusanggikhi (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri),
2. Juluq-Adoq (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya),
3. Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi, selalu mempererat persaudaraan serta ramah menerima tamu),
4. Nengah-Nyampokh (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis),
5. Sakai-Sambayan (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Tujuh Pedoman Hidup Ulun Lampung:
1. Berani menghadapi tantangan: mak nyekhai ki mak kakhai, mak nyedokh ki mak badokh.
2. Teguh pendirian: khatong banjikh mak kisikh, khatong bakhak mak kikhak.
3. Tekun dalam meraih cita-cita: asal mak lesa tilah ya pegai, asal mak jekha tilah ya kelai.
4. Memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama: pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih.
5. Hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan: wat andah wat padah, khepa ulah khiya ulih.
6. Mengutamakan persatuan dan kekompakan: dang langkang dang nyapang, makhi pekon mak khanggang, dang pungah dang lucah, makhi pekon mak belah.
7. Arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah: wayni dang khubok, iwani dapok.

Para Tokoh / Negarawan dan Politisi:

Pangeran Edward Syah Pernong

Alamsjah Ratoe Perwiranegara

Aburizal Bakrie

Ryamizard Ryacudu

Alzier Dianis Tabranie

Bagir Manan

Tursandi Alwi

Praktisi dan Profesional:

Henry Yosodiningrat

Andi Arief

Seniman dan Budayawan:

Andi Ahmad Sampoerna Jaya

Hila Hambala

Akademisi dan Tokoh Pendidikan:

Borisman

Irfan Anshori

Hilman Hadikusuma

Wartawan dan Jurnalis:

Sazeli Rais

Herman Zuhdi

Yasir Denhas

Udo Z. Karzi

Pahlawan Pejuang Kemerdekaan:

Pangeran Siagul Agul

Batin Mangunang

Radin Inten II. BI-2010 (waylima.wordpress.com)

Minggu, 02 Mei 2010

PENGAKUAN SANG GIGOLO KUTA




Bali adalah magnet. Ratusan ribu manusia dari manca negara datang ke sana saban hari. Berjemur di kuta, menikmati persawahan, dan ke gunung Kintamani yang rupawan.

Kaum pesohor juga ramai ke situ. Penulis novel terkenal Elizabeth Gilbert menetap empat bulan di pulau dewata ini. Di sana dia berkawan dengan Ketut Lyer, kakek berusia 93 tahun, yang disebutnya sebagai Medicine Man.

Dari sang kakek dan liburan di Bali itulah -- juga liburan di India-- Elizabeth kemudian menulis novel laris berjudul : Eat, Pray and Love. Novel itu jadi Best Seller di Amerika Serikat.

Adalah sutradara Ryan Murphy yang kemudian membawa novel itu ke layar lebar. Sejumlah artis terkenal datang ke Bali, turun ke sawah, naik gunung dan berendam di laut--untuk pengambilan gambar film itu.

Julia Robert, artis yang memerankan Elizabeth menetap di Bali hampir sebulan. Tidak cuma masyarakat Bali, warga negeri ini juga ikut bangga.

Kebanggaan itu terusik ketika sutradara Amit Virmani--yang baru kedengaran namanya oleh orang ramai sepekan terakhir- membesut Film Cowboys in Paradise. Film yang berkisah tentang gigolo di Bali ini dianggap merusak wisata pulau dewata itu.

Tapi Amit beralasan bahwa film itu berdasarkan fakta yang terjadi di Bali. Malah, katanya, film itu diinspirasi dari kisah pria belia berusia 12 tahun, yang dijumpainya di Bali beberapa tahun lalu.

Amit berkisah tentang sang bocah. Meski mengetahui Amit orang Singapura, bocah itu ngotot mengunakan bahasa Jepang. Amit Virmani, mengaku agak jengkel. Dia meminta penjelasan si bocah. "Saya sedang berlatih," kata Amit mengutip bocah itu. "Bila saya besar nanti, saya ingin melayani seks bagi wanita-wanita Jepang," kata si bocah.

Yang mengejutkan, kata Amit, bocah itu menjawab tanpa sedikit pun rasa bersalah, apalagi rasa malu. Ketika diserang sejumlah kalangan soal film itu, Amit membela diri, "Prostitusi dalam berbagai jenis, bukanlah barang baru untuk dijadikan latar belakang pembuatan film."

Tapi barangkali Amit bakal terantuk. Sejumlah lakon dalam film itu mengaku tidak mengetahui bahwa rekaman video yang diabadikan tahun 2007 itu akan dibuat film dan disebarluaskan. Bahkan ikut dalam festival Film Independen Korea.

Awalnya, mereka berpikir hanya untuk dokumentasi pribadi. Ternyata sudah tersebar luas di media internet. Tayangan dalam film itu menggambarkan wajah-wajah 'anak pantai' yang disebut gigolo tengah asyik di Pantai Kuta bersama pasangannya.

Mereka adalah Arnold, Argo, Fendy dan Bobby. Dari pengakuan mereka, sutradara Armit Virmani yang mengaku asal Singapura adalah tamu mereka yang kerap ke Bali untuk liburan panjang, hingga tiga bulan.

"Armit itu tamu kita, temen deket kita. Kita nggak nyangka saja dia ambil gambar kita untuk film seperti itu," jelas Arnold di Pantai Kuta, Rabu 28 April 2010.

Sebagai tamu, Armit dan kawan-kawannya dilayani dengan baik oleh mereka. Mengambil gambar anak-anak pantai yang sedang santai, bermain surfing bagi mereka itu sudah biasa dilakukan tamu-tamu asing. "Mereka ambil aktivitas kami di sini," kata Arnold.

Saat cuplikan wawancara yang tampak wajah Arnold. dari pengakuannya, Arnold sengaja diminta untuk bicara di depan kamera.

"Waktu itu kita tahu dia ambil gambar, kita kerja angkat boat, bersih-bersih pantai, lalu saya diminta ngomong. Saya pikir hanya untuk dokumentasinya saja" ujar Arnold.

Dari pengakuan keempat pemuda ini, mereka putus komunikasi dengan Armit sejak 2009. "Kami hubungi Armit teleponnya nggak aktif, email nggak dibalas," jelas Argo.

Mereka juga meminta supaya media mencari tahu isi film secara keseluruhan dengan jelas. Menurut mereka dalam film tersebut masih ada banyak pemeran anak pantai lainnya.

Seperti diketahui, dalam cuplikan film tersebut, Arnold sedang berbicara seolah menyambut tamu asing, dan Argo sedang dipijat, Fendy sedang bermain surfing, sementara Bobby sedang bermain gitar. ( BI-2010;sumber Vivanews)

WARGA BARU TAMAN SAFARI INDONESIA




Taman Safari Indonesia di Ciasura, Bogor, mendapat tambahan penghuni, yakni dua harimau sumatera betina dari Nanggroe Aceh Darusallam. Keduanya akan menetap selamanya di Bogor sebab kondisi fisiknya memprihatinkan. Bahkan, seekor di antaranya harus diamputasi salah satu kakinya.

"Salamah ditemukan tergantung di perkebunan sawit akibat kaki depan kanannya terjerat sling baja pemburu. Diperkirakan, dia tergantung selama tiga hari. Kakinya yang tejerat itu sudah membusuk. Karena khawatir akan menjalar, dokter terpaksa mengamputasinya," papar Yulius H Suprihardo, juru bicara TSI Cisarua, Jumat (30/4/2010) siang.

Salamah diperkirakan berusia tiga tahun. Bobotnya 45 kilogram dengan panjang 100 cm. Teman seperjalanan Salamah dari Provinsi NAD adalah Cut Nyak, yang berusia lima tahun dan berbobot 71 kg dengan panjang 119 cm. Cut Nyak disita petugas dari penduduk yang mengurungnya sejak ia berusia enam bulan.

"Salamah dan Cut Nyak tidak mungkin dilepasliarkan kembali. Dengan kondisi fisik dan mentalnya yang tidak prima lagi akibat cacat dan dikurung tahunan, keduanya tidak mampu berburu dan bertahan hidup di habitat aslinya," kata Direktur Taman Safari Indonesia Jansen Manangsang.

Taman Safari Indonesia (TSI) menerima kedua harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) tersebut dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi NAD. Salamah berasal dari Sabulusalam Aceh Singkil, Desa Siketambang. Adapun Cut Nyak asal Batalion Macan Leuser Aceh Selatan ditemukan di Desa Ujung Tanah dalam kurungan milik warga yang memeliharanya.

Begitu tiba di TSI pada Selasa (27/4/2010) tengah malam, tim medis satwa TSI dipimpin drh Bongot H Sirajaguguk melakukan general check up atas keduanya. Salamah yang kaki kanan depannya bernanah karena mulai membusuk diputuskan harus menjalani amputasi karena khawatir virus akan menjalar ke tubuhnya. Gigi geligi Salamah baik, begitu juga sistem pernapasan dan peredaran darahnya. Kondisi fisik Cut Nyak untungnya bagus pula.

"Salamah sekarang kondisinya sudah makin membaik dan sudah terbiasa berjalan dengan tiga kaki," kataYulius.

Menurut Kepala BKSDA NAD Abubakar, pihaknya sengaja menyerahkan dua harimau sumatera tersebut ke TSI karena TSI memiliki Pusat Penangkaran Harimau Sumatera (PPHS), yang dibangun bekerja sama dengan Pusat Konservasi Alam (PKA) Kementerian Kehutanan, Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), dan International Union Conservation Nation (IUCN). Adapun pembangunannya didukung oleh pengelola kebun binatang dari 18 negara, seperti Alexandria Zoo, Audubon Zoo, Australia Zoo, dan London Zoo.

PPHS juga memiliki fasilitas recource genome banking (bank sperma). Sperma beku harimau sumatera yang disimpan dalam tabung di ruangan bersuhu di bawah nol derajat celsius sewaktu-waktu dapat digunakan untuk inseminasi buatan terhadap harimau betina.

Salamah dan Cut Nyak nantinya diharapkan bisa berkembang biak, mengingat jumlah populasi harimau sumatera saat ini diperkirakan tinggal 200 ekor di hutan-hutan sumatera. Sementara itu, harimau bali sudah dinyatakan punah pada tahun 1935. Adapun harimau jawa ditemukan terakhir kali pada tahun 1970 dan juga dinyatakan punah.(BI-2010)